Setara Institute: Temuan Kunci dan Inisiatif Memitigasi Paham Radikalis Keagamaan


Setara Institute: Temuan Kunci dan Inisiatif Memitigasi Paham Radikalis Keagamaan | KlikDirektori

Jakarta, KlikDirektori.com | Direktur Riset Setara Institute, Halili mengungkapkan, sebanyak 10 perguruan tinggi negeri di Indonesia terpapar paham radikalisme. Hal itu diungkapkannya berdasar hasil penelitian bertajuk “Wacana dan Gerakan Keagamaan di Kalangan Mahasiswa” Halili menyebutkan, 10 PTN ternama yang menjadi tempat berkembangnya kelompok Islam eksklusif. Paham tersebut dibawa kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama, melalui pintu masuk organisasi keagamaan di kampus. Berikut adalah survei Setara Institute atas beberapa temuan kunci dan inisiatif untuk mencegah dan memitigasi radikalisme dan gerakan keislaman eksklusif di beberapa perguruan tinggi negeri, al:

Beberapa Temuan Kunci

Pertama, secara demografi kemahasiswaan, 10 Perguruan Tinggi Negeri (PTN) merupakan miniatur Indonesia muda yang beragam etnis, ras, suku dan agama. Meskipun demikian, analog dengan demografi penduduk Indonesia, mayoritas mahasiswa di PTN yang menjadi area riset ini beragama Islam. Secara faktual, kegiatan keislaman lebih dominan di kalangan mahasiswa. Dampaknya, kegiatan mahasiswa beragama selain Islam tidak banyak terakomodasi. Dalam potret demikian itulah, praktik-praktik intoleransi mengemuka, terutama yang berkenaan dengan tata cara berpakaian, terbatasnya akses minoritas nonmuslim atas aktivitas peribadatan, tidak tersedianya fasilitas tempat ibadah, diskriminasi yang dialami oleh minoritas nonmuslim dalam kegiatan bersama kemahasiswaan, dan lain sebagainya. Gejala ini ditemukan di seluruh area riset.

KLIK ➡ ….. ⚫ ADVERTISE YOUR BUSINESS: Your Customers are looking for You online ………. ⚫ ONLINE SHOPPING: Best Sellers, Best Offers, Best Prices, Best Choices ………. ⚫ ONLINE BOOKING: Cheap Flights/Hotels/Homes/Rooms/Tickets ………. ⚫ WONDERFUL INDONESIA: The 10 Destinations and Others ………. ⚫ FINANCIAL SERVICES: Banking, Financing, Investing, Insurance, P2P Lending ………. ⚫ LIST YOUR PROPERTY: Buy | Sell | Rent ……….

Kedua, corak kegiatan keislaman di sebagian besar kampus sebenarnya monolitik, cenderung homogen, belum mengakomodir kegiatan kelompok-kelompok lain sesama Islam. Hal itu terlihat dari dominasi kegiatan keislaman tertentu yang diakomodir oleh lembaga struktural kemahasiswaan seperti Lembaga Dakwah Kampus (LDK), Lembaga Dakwah Fakultas (LDF), dan UKM Kerohanian Islam (dengan aneka nomenklatur organisasi), yang sebenarnya hanya mengakomodasi kegiatan keislaman kelompok-kelompok Tarbiyah dan Tahririyah (yang belakangan simpul-simpul gerakannya dikuasai
oleh gerakan Tarbiyah). Hampir semua organisasi dan kegiatan keislaman di seluruh kampus area riset memiliki kecenderungan yang sama.

Ketiga, wacana keagamaan di kalangan mahasiswa berbagai perguruan tinggi negeri saat ini sebagian besar masih dikuasai oleh kelompok tarbiyah dan eks-HTI yang ‘bertransformasi’ menjadi aktivis gerakan tarbiyah. Hal ini terjadi di beberapa kampus yang menjadi area riset SETARA Institute, yaitu UI, IPB, ITB, UGM, dan UNY. Meskipun terdapat variasi dan perbedaan fokus, wacana keagamaan yang dikembangkan oleh mereka bersifat eksklusif, mendukung dan memperjuangkan formalisme syariah Islam di kampus, sehingga cenderung intoleran terhadap nonmuslim dan resisten terhadap wacana keagamaan kelompok lain.

Baca pula: Survei Setara: 10 Kampus Terpapar Paham Radikalisme dan Adanya Gerakan Islam Eksklusif

Keempat, wacana dominan yang dikembangkan oleh kelompok Islam eksklusif di kalangan mahasiswa beberapa kampus, khususnya di UI, IPB, ITB, dan UIN Jakarta, antara lain; (1) Kewajiban umat Islam untuk menegakkan ajaran dan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasayarakat. Narasi yang dikembangkan adalah cara pandang bahwa keselamatan masyarakat hanya dapat dicapai selama masyarakat taat menjalankan perintah Tuhan yang sudah disampaikan melalui Al Quran dan hadits. (2) Adanya ancaman terhadap Islam yang datang dari musuh-musuh Islam. Narasi yang direproduksi adalah perlunya umat Islam bersatu melawan penindasan terhadap Islam yang terus berkembang secara berkelanjutan oleh kaum kafir atau musuh-musuh Islam, yang merupakan kombinasi dari kelompok Kristen, Zionisme, imperialisme-kapitalisme Barat, dan kalangan liberal-sekuler. Kejahatan global atas Palestina merupakan amsal yang
direproduksi secara konstan untuk menguatkan wacana ini. (3) Era sekarang adalah era perang pemikiran (ghazwul fikr). Narasi yang mendapat penekanan bahwa Islam ditaklukkan oleh Barat karena penguasaan pemikiran dan kebudayaan. Kombinasi dari ketiga narasi tersebut adalah terbangunnya sebuah komunitas solid yang eksklusif,
bersikap hati-hati, mencurigai, memusuhi, dan menutup diri dari kalangan lain.

Kelima, gerakan keagamaan di kalangan mahasiswa di berbagai kampus negeri hampir seluruhnya didominasi oleh gerakan tarbiyah yang dilakukan dengan cara menguasai organisasi kemahasiswaan intra kampus (di hampir seluruh kampus area riset), masjid besar Kampus (UI, IPB, ITB, dan Universitas Brawijaya, UNRAM), mushalla-mushalla Fakultas (di hampir seluruh area riset), dan asrama mahasiswa (IPB). Akibatnya, dinamika politik mahasiswa di kampus cenderung eksklusif, anti pemimpin organisasi kemahasiswaan dari kalangan nonmuslim atau bahkan muslim di luar kelompoknya. Akibatnya, di berbagai organisasi dan kelembagaan mahasisawa, berkembang sikap bahwa mahasiswa nonmuslim tidak boleh memimpin satu organisasi/kelembagaan mahasiswa intra kampus. Mereka tidak menyetujui pemimpin nonmuslim dalam beragam dimensi kehidupan kemahasiswaan di kampus. Hal ini tentu saja merupakan buah dari
indoktrinasi keagamaan eksklusif mengenai pemahaman keagamaan yang bersifat tekstual dan skripturalistik.

Keenam, penguasaan organisasi intrakampus oleh gerakan keagamaan eksklusif di beberapa kampus dilakukan dengan aneka strategi politik, bahkan dengan menghalalkan segala cara (machiavellis). Misalnya, dengan merekayasa aturan Panitia Penyelenggara Pemilu Mahasiswa yang juga mereka kuasai, sehingga calon Ketua BEM hanya satu (tunggal) dari kelompok mereka, politisasi aturan mengenai syarat dukungan yang sulit dipenuhi bakal calon dari kelompok lain, dan lain sebagainya. Mereka membayangkan kontestasi politik mahasiswa seperti daarul harb (wilayah peperangan), sehingga kebohongan, rekayasa, dan strategi curang-manipulatif menjadi ‘halal’ untuk digunakan.

Ketujuh, wacana dan gerakan keagamaan yang bersifat eksklusif memicu terjadinya pelanggaran hak dasar bagi minoritas nonmuslim, khususnya hak atas kebebasan beragama/berkeyakinan. Aktivis kunci Ormawa intrakampus pada umumnya bersifat permisif terhadap ketidaktersediaan fasilitas tempat ibadah serta fasilitas untuk kegiatan keagamaan lainnya. Sebagian besar pemimpin Ormawa melakukan labelling bahwa mahasiswa nonmuslim yang secara jumlah memang tidak banyak tersebut tidak rajin dan tidak intensif beribadah. Selain itu, pada umumnya mereka beranggapan bahwa minoritas harus hormat dan tunduk pada aturan mayoritas.

Kedelapan, beberapa medium penyebaran wacana islamisme kelompok Islam eksklusif dan kontra wacana terhadap paham keagamaan yang berbeda dengan mereka di kalangan mahasiswa disebarkan melalui berbagai kajian, khutbah jum’at, liqo’, daurah, halaqoh dan pengkaderan anggota secara rutin. Selain itu, diseminasi wacana keagamaan mereka juga dilakukan melalui berbagai bacaan buku, majalah dan buletin jum’at. Kelompok Salafi Wahabi mempunyai Buletin Al Hujjah, HTI punya Kaffah yang disebar ribuan eksemplar setiap pagi jum’at. Buletin itu biasanya diletakkan di beranda masjid.

Kesembilan, reproduksi wacana dan gerakan keislaman eksklusif di hampir seluruh area riset dilakukan dengan melakukan penguasaan atas masjid. Ada tiga pola umum penguasaan yang dilakukan oleh kelompok keislaman eksklusif yaitu sebagai berikut. A) dengan menjadikan masjid besar kampus sebagai markas utama kaderisasi dan penguasaan jaringan strategis yang dibutuhkan, termasuk Ormawa intra kampus. Pola semacam ini ditemukan di IPB, dimana masjid pusat Al-Hurriyyah dijadikan sebagai markas utama kelompok Tarbiyah dan eks-HTI yang belakangan menyaru ke dalam gerakan tarbiyah. B) Dengan menguasasi sepenuhnya masjid besar kampus dan mushalla (atau masjid) fakultas-fakultas dan asrama mahasiswa. Pola ini dapat ditemukan di sebagian besar perguruan tinggi area risit. C) Menjadikan masjid besar di kampus sebagai ‘central hub’ yang menghubungkan jaringan dengan masjid-masjid ‘tetangga’ di sekitar kampus. Hal itu yang terjadi di UGM, paling tidak sebelum tahun 2012.

Kesepuluh, wacana dan gerakan keagamaan eksklusif yang berkembang di kalangan mahasiswa dan politik organisasi kemahasiswaan merembet ke dalam politik kampus pada umumnya, sebab structural opportunity di lingkungan kekuasaan kampus, baik di rektorat maupun dekanat, disadari oleh kelompok Islam eksklusif menentukan iklim kaderisasi mereka di kalangan mahasiswa dan menentukan eksistensi dan kekuatan jaringan mereka di kampus. Kekuatan-kekuatan jejaring politik yang dimiliki dan dilakukan kelompok bekerja aktif dalam ragam momentum politik di internal kampus, mulai dari pemilihan Rektor, Dekan, hingga Ketua Jurusan. Fenomena ini tergambar di beberapa
kampus, utamanya di IPB, ITB, dan UI dengan beberapa varian. Dalam konteks itu, perlu disampaikan bahwa di seluruh area riset, secara riil tidak ada Rektor yang betul-betul memiliki latar belakang keislaman eksklusif. Namun, berkembangnya keislaman eksklusif di kampus menunjukkan bahwa kebijakan, absensi kebijakan, atau kelalaian pimpinan
kampus negeri telah melahirkan enabling environment bagi penguatan wacana dan gerakan keislaman eksklusif di kampus.

Kesebelas, kecuali di UIN Jakarta, UIN Bandung dan UGM (dimana Asistensi Agama Islam sudah dihapus sejak 2012), program pendampingan pendidikan agama Islam (dengan aneka nomenklatur program seperti mentoring, tutorial, atau asistensi) diinstrumentasi oleh gerakan Islamis eksklusif untuk mendoktrinkan wacana keagamaan versi mereka. Di hampir seluruh area riset, seluruh mahasiswa muslim wajib mengikuti program tersebut karena memiliki bobot SKS. Dalam spektrum masalah ini, pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) juga rekrutmen dosen pengampunya menjadi mendesak untuk dilakukan penataan ulang oleh setiap perguruan tinggi negeri.

Keduabelas, minimnya kontestasi dan pengaruh wacana keagamaan di kalangan gerakan mahasiswa dari kelompok berbasis organisasi massa besar seperti NU dan Muhammadiyah, juga organisasi-organisasi non-religious based lainnya, merupakan salah satu faktor yang membuat dominasi wacana keagamaan di berbagai kampus bercorak eksklusif dan intoleran. Secara umum (kecuali di UIN Jakarta), HMI, PMII, IMM, KMNU, GMNI dan organ ekstra keagamaan lain tidak banyak memberikan strategi oposisional terhadap dan gagal menawarkan alternatif bagi gerakan keislaman eksklusif semacam gerakan tarbiyah, terutama melalui KAMMI yang berafiliasi ke Partai Keadilan Sejahtera
(PKS), dan gerakan tahririyah yang sejak 2017 bertransformasi secara terselubung ke dalam gerakan tarbiyah. Hampir seluruh informan kunci dari kelompok moderat di kampus-kampus area riset mengonfirmasi situasi tersebut.

Ketigabelas, surutnya iklim diskusi ilmiah di seluruh area riset, mendorong percepatan tumbuhnya lingkungan yang memungkinkan (enabling environment) terjadinya dominasi wacana keagamaan eksklusif ala gerakan tarbiyah dan tahririyah, yang secara aktif menawarkan forum diskusi alternatif yang menjawab kebutuhan mahasiswa, yang mulai bertransformasi menjadi masyarakat urban. Pada saat yang sama mereka juga mengalami kekeringan spiritualitas masyarakat modern dan perkotaan. Gerakan keagamaan eksklusif tidak hanya menawarkan pemahaman Islam sebagai ‘teologi pascakematian’, tapi juga membangun ghirah keislaman untuk bangkit dari ketertindasan oleh konspirasi nasional dan global serta memiliki kewaspadaan yang tinggi dalam perang pemikiran (ghazwul fikr) yang sedang berlangsung. Dalam suasana perang yang diindoktrinasikan tersebut, mereka hanya membaca literatur-literatur keislaman tokoh-tokoh mereka, seperti Hasan Albanna dan Aidh Alqarni. Pemikiran dari kaum Islam pluralis dan pembaharu di Indonesia seperti Nurcholish Madjid, Ahmad Syafii Maarif, Abdurrahman Wahid, tidak pernah mereka
diskusikan, kecuali dalam konteks indoktrinasi bahaya ancaman pemikiran liberal. Dalam konteks yang sama, tulisan tokoh-tokoh lain dengan kepakaran agama sangat mumpuni seperti M. Quraish Shihab, Musthafa Bisri (Gus Mus), dan M Zainul Majdi (TGB) tidak mendapat tempat dalam forum-forum tertutup kelompok Islamis tersebut. Mereka lebih
lebih suka menyimak tulisan atau ceramah Felix Siauw, Salim A Fillah, dan Adi Hidayat.

Keempatbelas, beberapa kampus area riset saat ini telah menampilkan inisiatif untuk mencegah dan memitigasi radikalisme dan gerakan keislaman eksklusif di perguruan tinggi negeri. Di antara kampus-kampus area riset, prakarsa untuk meng-counter narasi dan gerakan keislaman eksklusif yang membahayakan kelembagaan akademik kampus dan eksistensi Pancasila sebagai ideologi negara-bangsa adalah Universitas Gadjah Mada pada Tahun 2012, di era kepemimpinan Rektor Pratikno yang berlangsung sampai sekarang. Beberapa kampus lainnya mengalami transformasi dan inisiatif serupa. Secara umum, dengan tidak bermaksud mengecilkan inisiatif-inisiatif lain, beberapa yang dapat
disebut sebagai berikut.

1) Merespons tendensi eksklusivisme yang berkembang di Jamaah Shalahuddin, UGM telah merestrukturisasi peran dan fungsi Organisasi tersebut sebagai Unit Kerohanian di UGM dan mengganti namanya menjadi “Unit Kerohanian Mahasiswa
Muslim Gadjah Mada” (UKMM-GM), juga statuta dan peranannya.

2) UGM juga merestrukturisasi pengelolaan Masjid Kampus UGM dan memposisikannya langsung di bawah rektorat. Hasilnya latar belakang keislaman para narasumber yang mengisi kegiatan keislaman di masjid kampus lebih beragam
dan lebih moderat.

3) UGM menghapus asistensi agama Islam yang pada praktiknya digunakan kelompok keislaman eksklusif untuk mendiseminasi wacana dan doktrin keagamaannya, bahkan sebagai bagian dari simpul kaderisasi.

4) Sejak 2018, pimpinan UI secara serius melakukan program deradikalisasi, terutama dalam bentuk pengisian jabatan-jabatan penting di kampus dengan tokoh-tokoh pluralis dan moderat.

5) Di kalangan masyarakat sipil kampus UI, terjadi penguatan organ dan jaringan moderasi keagamaan dan pemajuan toleransi yang melakukan aksi-aksi strategis untuk memperkuat kebinekaan di UI.

6) Di IPB, di bawah kepemimpinan Rektor Arif Satria, telah diambil prakarsa untuk ‘membuka’ Masjid Alhurriyyah untuk seluruh paham keislaman, melalui program subuh berjama’ah, IPB bershalawat, sentralisasi seluruh kegiatan keislaman di Masjid, dan sebagainya.

7) IPB merupakan satu-satunya di antara kampus area riset yang menyediakan fasilitas peribadatan untuk seluruh agama selain Islam.

8) Untuk mengantisipasi infiltrasi radikalisme, sejak 2017 UNY di bawah kepemimpinan Rektor Sutrisna Wibawa melembagakan Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi (PSPK) untuk memperkuat dan memajukan kajian Pancasila dan
pembumian nilai-nilai Pancasila.

9) UNY juga melakukan terobosan kultural untuk membangun iklim kampus dan masjid yang lebih terbuka. UNY mengadakan konser band di kampus dan event UNY njathil (Jathilan sering dipandang oleh kelompok Islam eksklusif sebagai tradisi yang dapat merusak aqidah). Rektor juga mengadakan Tabligh Akbar dengan Pembicara Gus Muwafiq sekaligus konser Bimbo di Masjid Kampus.

Simpulan

Pertama, di berbagai kampus negeri area riset masih berkembang wacana dan gerakan keagamaan eksklusif yang tidak hanya digencarkan oleh satu kelompok keislaman tertentu, tapi oleh beberapa kelompok yaitu gerakan salafi-wahabi, gerakan tarbiyah, dan gerakan tahririyah. Dalam situasi tertentu, kondisi ini sesungguhnya berpotensi menjadi ancaman bagi Pancasila, demokrasi, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Misalnya, wacana Islam tertindas oleh musuh-musuh Islam dalam bentuk konspirasi dan ghazwul fikr yang terus menerus-menerus direproduksi dan diindoktrinasi kepada generasi muda di perguruan tinggi, akan mengancam harmoni sosial dan integrasi nasional, jika ada pemicu (trigger) politik yang tepat.

Kedua, pembubaran HTI pada kenyataannya tidak mengurangi derajat eksklusivitas wacana dan gerakan keislaman di perguruan tinggi, pun tidak menjadi solusi kunci bagi penyebaran radikalisme di perguruan tinggi atau paling tidak penyebaran narasi intoleransi. Sebab wacana dan gerakan keislaman eksklusif dengan ragam variannya sejatinya sudah mengakar sejak lama, sekitar dua dekade yang lalu. Pembubaran HTI hanya menghilangkan struktur organisasi di permukaan, tapi wacana keislaman eksklusif yang dikembangkan masih terus berkembang bahkan aktivis dan organisasi onderbouw-nya seperti Gema Pembebasan secara riil masih eksis di bawah permukaan.

Ketiga, inisiatif yang sudah dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi menunjukkan bahwa aktor-aktor kunci di perguruan tinggi memainkan peran penting dalam mengurangi structural opportunity dan mendestruksi enabling environments bagi berkembangnya wacana dan gerakan keislaman eksklusif di kampus, khususnya kampus-
kampus negeri. (nk)

Baca pula: Kumpulan Berita & Info Terkini